Tata Kota dan Banjir Jakarta

tata letak kota

Tata kota merupakan salah satu hal yang membuat saya tertarik. Bahkan saat saya duduk ditahun terakhir Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), saya memasukkan Perencanaan Wilayah dan Kota kedalam daftar program studi yang saya minati untuk jenjang perkuliahan. Padahal saya tidak punya satupun kerabat ataupun kenalan yang mengambil studi ini, yang bisa memberi info jelas tentang bagaimana program studi ini sebenarnya dan prospeknya dimasa kini. Seperti kita tahu bahwa ada program studi tertentu yang lebih digemari oleh calon mahasiswa karena dianggap lebih bergengsi dibanding program studi yang lainnya, meskipun berada dikampus yang sama. Saya tertarik pada tata kota bukan karena alasan labil seperti itu, namun karena saya memang cenderung berminat ke sesuatu yang bisa berguna untuk khalayak ramai dibanding untuk kepentingan saya sendiri. Selain minat, pertimbangan saya yang lain adalah prospek.

Di era otonomi daerah seperti sekarang, sangatlah dibutuhkan ahli dalam perencanaan kota, terutama  untuk pengembangan wilayah Indonesia timur. Disamping membangun karir, sesungguhnya lulusan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota dapat menggunakan ilmunya untuk mengabdi pada negara dan masyarakat. Itulah alasan saya mencoba mendaftar diprogram studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di suatu institut teknologi terkemuka di Indonesia pada tahun 2011 lalu melalui jalur SNMPTN Undangan. Saya telah berusaha maksimal untuk itu, namun apa daya tuhan menggariskan jalan yang lain. Saat ini saya adalah mahasiswi semester 6 Program Studi Akuntansi dan penerima Beasiswa Unggulan dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri di Universitas Internasional Batam, yakni salah satu universitas swasta di Kepulauan Riau. Saya juga bekerja di Kantor Akuntan Publik Charles dan Nurlena Batam sebagai Junior Auditor.

Ketertarikan saya akan tata kota kembali membara saat saya membaca berita online pagi ini di Harian Kompas yang berjudul “Banjir Jakarta, Dampak Salah Urus”. Sejumlah ahli mengemukakan opininya dalam berita diatas, antara lain Seorang Perencana Kota Andy Siswanto, Prof. Dr. Hasanudin Z Abidin seorang peneliti penurunan tanah Jakarta dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas seorang peneliti Departemen Teknik Geodesi ITB, dan Firdaus Ali seorang ahli hidrologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Banjir Jakarta yang kian lama kian menggila disebabkan berbagai masalah yang membentuk kompleksitas tingkat tinggi sehingga memerlukan perencanaan dan penanganan yang kompleks pula, yang tentunya tidak akan selesai dalam waktu satu malam seperti kisah Bondowoso yang membangun 999 candi untuk Roro Jonggrang. Seperti tertulis di Harian Kompas, berbagai masalah penyebab banjir berawalmula dari tata kota Jakarta yang buruk. Masalah-masalah kompleks ini antara lain penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, pertambahan penduduk yang tidak terkendali, alih fungsi lahan, dan infrastruktur yang tidak memadai.

Kalangan kontra-pemerintah kelas menengah kebawah kerap sekonyong-konyong mencibiri kinerja pemerintah Jakarta yang tidak becus dalam mengatasi banjir, padahal sesungguhnya mereka tidak tahu persis apa saja penyebab banjir dan apa saja upaya pemerintah untuk mengatasinya. Terkadang emosi saya meningkat kala berdiskusi dengan mahasiswa/i yang otaknya terlalu gampang diracuni unsur politik, seolah telah ditanam sebuah memori permanen bahwa ‘pemerintah tidak pernah berbuat positif untuk rakyatnya’ dikepala mereka . Mungkin hal ini karena mereka terkena dampak negatif karena terlalu aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan non-kemahasiswaan yang sedikit-banyak menjejali mereka dengan ilmu politik yang disalah-gunakan. Menciptakan pribadi yang amat kritis namun tanpa solusi, yang selalu menuntut perbaikan dari pihak pemerintah namun tidak mengimbangi dengan perbaikan dari dirinya.

Saya menghargai pendapat siapapun yang rasional dan berlandaskan hal yang jelas, jika kinerja pemerintah memang kurang bagus silahkan keluarkan pendapat itu, dan berikan masukan untuk perbaikan kedepan. Seperti pendapat para ahli yang saya baca di Harian Kompas yang menyatakan bahwa untuk mengatasi banjir, semua faktor penyebab harus dipetakan, memproyeksi potensi banjir yang akan terjadi, sehingga dapat dilakukan perbaikan lingkungan secara komprehensif dan pengendalian resiko bencana.

Selain faktor buruknya tata kota, faktor alami turut menyokong bencana banjir di Jakarta, karena daerah ini dilalui 13 sungai dan 40% kawasannya berada didataran rendah. Hal ini menyebabkan banjir “warisan” yang sudah mulai terjadi sejak abad ke 18.

Berdasarkan data dari Kementrian Pekerjaan Umum, penanganan banjir Jakarta dilakukan dengan penanganan struktural dibagian hilir dan hulu serta penanganan non-struktural. Proyek-proyek ini dilaksanakan dari tahun 2012 hingga 2017. Secara umum proyek ini meningkatkan kapasitas di kanal-kanal daerah hilir, normalisasi kali-kali yang ditargetkan selesai tahun 2014, normalisasi kali yang akan dimulai tahun depan, maupun yang baru akan dimulai tahun 2016. Tidak ketinggalan penanganan non-struktural yang terus berjalan hingga kini dan ditargetkan selesai dalam tiga tahun kedepan.

Begitulah upaya pemerintah Jakarta dalam menangani banjir yang seperti sudah mendarah daging dengan wilayah metropolitan itu. Sebagai rakyat, apa upaya kita? Mari biasakan untuk koreksi diri, lakukan hal-hal kecil yang mungkin dapat membantu menangani masalah tersebut. Kita memang tidak berkuasa untuk menghambat urbanisasi dan mengurangi kepadatan penduduk Jakarta, kita juga tidak mampu mengurangi pengambilan air bawah tanah Jakarta yang masif, apalagi membatasi pengalihan lahan ekstrem. Namun kita mampu mendukung upaya pemerintah, tidak menghambat proses penanganan banjir, ataupun menyadarkan saudara-saudara kita akan pemahaman yang pemerintah perbuat adalah demi kesejahteraan bersama. Sehingga tidak perlu ada lagi kerusuhan disetiap area yang akan dinormalisasi, yang tentu malah menghambat perbaikan Jakarta. Jika hal itu belum bisa kita lakukan, cukup yakinkan diri kita sendiri untuk percaya pada pemerintah Jakarta dalam penanganan bencana berkepanjangan ini.

Jika saya adalah ahli Perencanaan Wilayah dan Kota, tentu saya akan menyarankan hal tentang tata kota yang lebih baik untuk Jakarta. Namun karena saya bukanlah ahli dibidangnya, saya beropini berdasarkan batas pemahaman dan pengetahuan saya.

Sekian, semoga bermanfaat.

NB: Sumber data, sumber ilustrasi gambar 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s